Di Antara Tarwih dan Ilmu: Recharge Iman yang Sering Kita Lupa
Setiap kali melangkah ke masjid untuk melaksanakan shalat Tarwih, saya selalu menyadari satu hal: terkadang yang paling “me-recharge” iman kita tidak hanya dengan rakaat demi rakaat yang ditunaikan, tetapi ilmu yang disampaikan sebelum shalat dimulai.
Ceramah Tarwih itu singkat. Kadang hanya 10–15 menit. Tapi dampaknya bisa jauh lebih lama dari itu. Judul-judul yang diangkat begitu dekat dengan keseharian kita—tentang sabar dalam bekerja, tentang amanah dalam jabatan, tentang menjaga lisan di media sosial, tentang mendidik anak di tengah zaman yang serba cepat. Tidak melangit, tidak berjarak. Sederhana, tapi mengena.
Dan ketika yang menyampaikan adalah ustadz yang berpengalaman dan kaya ilmu, terasa sekali kedalaman maknanya. Ada perspektif baru yang mungkin selama ini luput dari perhatian kita. Ada ayat yang sering kita baca, tetapi baru benar-benar kita pahami malam itu. Ada hadis yang sudah familiar, namun terasa “menyentuh” karena dikaitkan dengan realitas hidup hari ini. Masya Allah.
Saya sering pulang dari Tarwih bukan hanya dengan hati yang lebih tenang, tetapi juga dengan pikiran yang lebih jernih. Seakan-akan kita diingatkan kembali: hidup ini bukan hanya tentang target dunia, tetapi tentang kualitas diri yang terus diperbaiki.
Di tengah ritme kerja, deadline, dan tanggung jawab yang tidak pernah berhenti, momen Tarwih itu seperti pit stop ruhani. Kita berhenti sejenak. Mengisi ulang makna. Menguatkan niat. Meluruskan orientasi. Mungkin inilah yang sering kita cari, tapi jarang kita sadari.
Bahwa iman juga butuh “charging”. Bahwa hati juga butuh “update”. Bahwa ilmu adalah bahan bakarnya. Ramadhan mengajarkan kita bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kadang cukup dari duduk tenang, mendengar satu nasihat, lalu membiarkannya bekerja pelan-pelan dalam diri kita.
Semoga setiap langkah kita menuju masjid bukan hanya menjadi rutinitas, tetapi perjalanan pulang—pulang kepada nilai, kepada kesadaran, kepada Allah. Karena bisa jadi, satu ceramah singkat itu yang kelak menyelamatkan arah hidup kita.
Comments
Post a Comment