Posts

Masih tentang Engkau, Mama

Insya Allah. Ini adalah akhir penantianmu. Bunga Dg. Bollo 22 Oktober. Hari bersejarah. Hari yang mana aku tidak membutuhkan apa-apa. Bukan karena aku ekstrim terhadap anti perayaan tapi aku takut dengan hari ulang tahunku sendiri. Tanggal itu sebagai momok dalam hidupku. Aku kembali tak kuasa. Hilang kesadaran bahkan ada niat untuk merasa “tiada”. Aku masih trauma dengan sosok seseorang yang selalu aku bayangkan. “Assalamualaikum Wr Wb, ma, apa kabar mu disana? Aku harap selalu seperti yang diharapkan. Ma, doa kami sampai tidak? Tau tidak, kalau kami semua rindu dengan mu, kami selalu saja membaca al-Qur’an sebagai sapaan salam dari kami. Ma’, tau tidak, kalau kami dalam keadaan marah, selalu saja kami mengikuti jejak mu dengan memberi sebuah senyuman. Ma’, tau tidak, kalau kami sedang sakit, kami selalu cepat minum obat dan melakukan aktivitas apa saja, karena katamu penyakit itu akan menjauh dengan segala gerak – gerik kita yang dilakukan dengan kuat, ikhlas dan sabar itu...

Leadership itu nanti

1 September 2014 Terus terang, seolah – olah aku berada di silang jalan ketika aku kehilangan jati diri trmasuk ego untuk menambah masa bakti ku ber-IPM. Disatu sisi juga aku bingung karena usia yang telah pas pada Muktamar dan Musywil nanti, aku merasa ada perlunya estafet kepemimpinana diberikan kepada kaum muda dan kuat dalam menjalankan aktifitas dakwah ini. Ditambah aku sudah merasa cukup dengan ini semua yang telah aku dapatkan, baik keluarga baru dan kehidupan baru. Mencoba mandiri untuk menjadi insane yang tak senantiasa manja dan mengeluh dengan kehidupan dunia.   Disisi lain, keharuan dan perasaan entahlah aku tidak bisa sebutkan satu persatu berkecamuk di dalam diri saya karena sadar betapa aku seharusnya bersyukur dengan nikmat dan karunia yang telah didapatkan saat ini. Aku tahu bahwa aku tak pernah bercita – cita untuk menjadi seorang Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah apa lagi mendapatkan posisi strategis dalam hidupku. Jabatan yang dipangku sa...

Moralitas dan Spiritualitas

31 Agustus 2014 Moralitas dan Spiritualitas Dua kata, moralitas dan spiritualitas. Justru mengingatkan kita kepada perserikatan Muhammadiyah secara signifikan terus menerus berjuang selama ini untuk meningkatkan kualitas moral dan spiritualitas masyarakat. Kehadiran dan perannya semakin terasa justru dibutuhkan ketika masyarakat dan pemerintah saat ini sedang terinfeksi secara moral dan spiritual. Lemahnya akhlak dan iman warga dan kelompok masyarakat bersama pemerintah yang membangun bangsa jelas tercermin pada gaya hidup materialistis. Living style demikian mendewakan materi memperbudak diri pada materi yang dikonsumsi melalui pemuasan nafsu makan, minum dan pakai, juga melalui pemuasan kebutuhan nafsu-nafsu biologis, khususnya seksual-hewani.             Merajalelanya kejahatan korupsi di dalam institusi – institusi pemerintahan (eksekutif, legislative dan yudikatif) dan lembaga – lembaga kepartaian dan keormasan menun...

Hanya Allah yang Suci, Beristigfarlah!

30 Agustus 2014 Hanya Allah yang Suci, Beristigfarlah! Maha Suci Allah yang sekiranya bukan karena rahmat-Nya (akibat hawa nafsu manias) – binasalah semua masjid, semua gereja, semua kuil, semua vihara, dan semua rumah ibadah lainnya yang ada di dalam rumah – rumah ibadah itu nama – Nya banyak disebut. Maha Suci Allah yang mengajari semua manusia bahwa jika kamu kehilangan kesantunan dan kelembutan, niscaya manusia akan lari menjauhimu. Maha Suci Allah yang mengingatkan kita semua bahwa menghilangkan satu nyawa manusia sama saja dengan membunuh semua manusia dan memelihara satu jiwa sama dengan memelihara semua jiwa.             Saya mengajak siapa saja, tak terkecuali pra ulama dan cendekiawan muslim, juga segenap muballighh dan para ustadz, agar berhti – hati dengan fatwa dan tablig yang disampaikan. Siapa tahu seorang muslim menyerang, menganiaya, atau jika sekelompok muslim lainnya akibat   dari fatwa dan tablig ...

Berjalanlah

Jum’at, 29 Agustus 2014 Berjalanlah Setiap awal perkuliahan, saya selalu menekankan kepada para mahasiswa bahwa sol sepatu mereka harus habis, aus, ketika perkuliahan final nanti. “Habis bagaimana?” biasanya ada mahasiswa yang bertanya begitu. “orang Makassar bilang pupusu;,” ucap saya, karena umumnya mereka belum mengerti maka saya melanjutkan, “kalau kain hanya gesek-gesek dilantai berarti kian tidak mendapatkan apa-apa cuali sau yang tidak berarti. Karena itu harus jalan.” “Jalan ke mana?” Jalan ke mana saja, jalan yang banyak. Dengan jalan banyak berarti banyak kalian lihat. Dengan banyak melihat berarti banyak yang kalian ketahui. Ada yang tahu Paotere? Terong? Kalimbu? Butung? Kayu Bangkoa?” ucap saya.             Saya tidak heran bila umumnya mereka asing dengan tempat itu. Ada yang mengaku tidak tahu lantaran berasal dari daerah lain. Mahasiswa yang dari kota Makassar malah terlihat bengong. “Saya hara...