Posts

Showing posts from December, 2025

PUSAT PELAYANAN CS TERBAIK 2025 (Versi Pengalaman Pribadi)

Image
PUSAT PELAYANAN CS TERBAIK 2025 (Versi Pengalaman Pribadi) Di penghujung tahun 2025 ini, izinkan saya menutup tahun dengan sebuah catatan apresiasi yang jujur dan lahir dari pengalaman pribadi. Di tengah begitu banyak cerita tentang pelayanan yang mengecewakan—antrian panjang, jawaban normatif, sikap dingin, hingga proses yang berbelit—saya justru dipertemukan dengan pelayanan yang memberi harapan. Tiga nama ini pantas saya beri standing applause sebagai pelayanan customer service terbaik yang pernah saya rasakan secara langsung: CS BCA, CS Grab, dan Ibu Ardana Adi dari Disdukcapil Sumba Timur. Saya tidak bisa—dan tidak ingin—mengurutkan siapa yang paling nomor satu. Karena ketiganya, dengan caranya masing-masing, sama-sama layak mendapat 5 ⭐⭐⭐⭐⭐ penuh. Bukan hanya karena masalah terselesaikan, tetapi karena prosesnya manusiawi. Pelayanan yang cepat tanpa tergesa-gesa, jelas tanpa berputar-putar, solutif tanpa menyalahkan, ramah tanpa dibuat-buat, dan yang paling penting: melayani deng...

Patience and Gratitude

Image
Over the past few days, I fell ill. Targets slipped away, income declined, and my energy was completely drained. In that moment, I truly realized something important: good health is not a bonus—it is a fundamental necessity. I used to be too busy chasing targets, pushing my body to keep going without pause. Eventually, exhaustion turned into illness, and I couldn’t do anything at all. Today, I’ve learned a new perspective. Not everything has to be forced. What truly matters is discipline, focus, patience, and remaining grateful for whatever results come our way. Because sustenance is not only about numbers—it’s also about a body that remains strong, a heart that stays calm, and the opportunity to rise and fight again. Ya Allah, on this day of recovery, bless the steps of us who struggle on the roads. Grant us greater patience and gratitude in our lives. Aamiin Ya Rabb. My deepest respect to all drivers who continue to persevere. We are not weak—we are learning how to be strong in the r...

Lelah yang Tak Selalu Terlihat

Image
Ada satu hal yang sering keliru kita pahami tentang lelah dalam bekerja. Pekerjaan yang menguras tenaga fisik memang melelahkan. Namun, pekerjaan yang menggunakan akal dan pikiran sering kali jauh lebih menguras energi—bahkan membuat seseorang lebih cepat mengalami burn out. Ambil contoh sederhana. Seorang tukang cuci piring di restoran cukup fokus menyelesaikan tugasnya di tempat kerja. Ketika jam kerja selesai, urusan cuci piring pun ikut selesai. Ia tidak perlu membawa pulang beban pekerjaan ke rumah, apalagi memikirkannya hingga larut malam. Berbeda dengan mereka yang bekerja dengan otak. Pikiran tidak bisa “ditinggal” di kantor. Masalah pekerjaan sering terbawa pulang, ikut hadir saat makan malam, bahkan menemani hingga sulit tidur. Otak terus bekerja, meski tubuh sedang beristirahat. Apalagi bagi seorang pemilik usaha. Pikiran hampir tidak pernah benar-benar diam. Selalu ada hal yang dipikirkan: bagaimana bisnis tetap berjalan, bagaimana memastikan karyawan tetap punya pekerjaan,...

Avatar – Fire & Ash | 10/10

Image
James Cameron once again proves that the world of Avatar is more than just a visual spectacle—it is a complete cinematic experience. Among the three sequels, Avatar: Fire & Ash stands out as the most mature, emotionally, narratively, and technically. From the very first minutes, the film establishes its class. The visuals remain a major strength, but this time they do not stand alone. The beauty of Pandora is seamlessly woven with darker, bolder conflicts that feel deeply human. Every scene is not only visually stunning, but also serves a clear narrative purpose. What stands out most is the depth of the storytelling. Cameron does not merely expand the world; he deepens its meaning. Themes of loss, anger, life choices, and moral consequences are conveyed powerfully without excessive dialogue. The audience is invited to reflect, not just to admire. From a directing standpoint, the film’s pacing is exceptionally well controlled. Emotions are built gradually yet decisively, keeping vie...
Heute bin ich mit einem Herzen voller Gefühle zum Postamt gegangen. Gestern folgte ich der Anweisung der Vorsitzenden der Nachbarschaftseinheit (RW), ein Empfehlungsschreiben von der Gemeindeverwaltung abzuholen, und heute brachte ich dieses Schreiben als Voraussetzung zur Abholung der BLTS-Unterstützung mit. Es war kein luxuriöser Prozess. Und auch nichts, das man leicht zugeben kann. Doch heute habe ich eine wichtige Lektion gelernt: dankbar zu sein, ohne die eigene Würde zu verlieren. Diese Unterstützung bedeutet mir sehr viel. Nicht wegen der Höhe des Betrags, sondern weil sie genau in dem Moment kam, als die Last besonders schwer war. Sie hat meinen Weg ein wenig erleichtert – ohne dass ich darum gebeten habe, ohne dass ich um Mitleid von irgendjemandem bitten musste. In der Stille wurde mir bewusst. Von der gesamten Familie bin nun nur noch ich, der diese Unterstützung erhält. Die anderen leben bereits ein würdiges Leben und stehen auf eigenen Füßen. Und gerade an diesem Punkt ha...

Belajar tentang “Merelakan” dari John Cena

Image
Banyak penggemar meluapkan kekecewaan setelah pertandingan John Cena melawan Gunther. Sebagai generasi yang tumbuh bersama slogan “Never Give Up”—yang bagi John Cena bukan sekadar tagline, melainkan prinsip hidup—wajar jika banyak yang berharap ia menang untuk terakhir kalinya. Apalagi setelah berkali-kali kita disuguhkan momen “Super Cena” yang selalu bangkit di saat genting. Namun hasilnya di luar dugaan. John Cena memilih tap out. Sesuatu yang hampir tidak pernah ia lakukan selama lebih dari 20 tahun kariernya, dan justru terjadi pada pertandingan yang dianggap sebagai penutup. Tak heran jika banyak penggemar kecewa, bahkan meluapkan amarah kepada manajemen dan Triple H. Gunther pun menjadi sasaran kebencian. Hingga pada titik tertentu, emosi sebagian penggemar berubah menjadi tindakan yang tidak sehat. Di sinilah kita melihat bagaimana fanatisme kadang mengalahkan nalar. Namun jika dilihat lebih dalam, ada pelajaran besar di balik semua ini. Saya percaya, inilah keputusan yang mema...

FUTUR Credit : Ustaz Ahmad Nasir

Image
Futur adalah keadaan di mana semangat beribadah melemah, ketaatan menurun, dan jiwa menjadi malas mendekat kepada Allah—padahal sebelumnya hati begitu rajin dan kuat dalam ibadah. Dalam bahasa sederhana: Dulu hati hangat oleh iman, kini terasa suam. Dulu mudah bangun di sepertiga malam, kini bangun saja terasa berat. Dulu rindu membuka Al-Qur’an, kini tak tersentuh berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Ini bukan sekadar rasa malas biasa. Futur adalah penyakit hati—yang perlahan, diam-diam, memadamkan cahaya iman. Jika dibiarkan, futur akan menjerumuskan seseorang ke dalam kelalaian, membuka pintu dosa, dan menjauhkan diri dari Allah tanpa ia sadari. Para ulama menyebut futur sebagai melemahnya iman yang sangat berbahaya, terutama bila tidak segera disembuhkan dengan taubat, zikir, dan mujahadah—kesungguhan melawan hawa nafsu. Futur itu berbahaya jika dibiarkan. Ia tidak datang seperti badai yang mengagetkan. Ia datang seperti tikus kecil—menggerogoti iman dari dalam gelap, perlahan, s...

Mengapa Generasi Dulu Banyak Disebut “People Pleaser”?

Bukan karena mereka lemah. Melainkan karena itulah cara yang diajarkan kepada mereka untuk bertahan hidup. Sejak kecil, banyak dari generasi sebelumnya dibesarkan untuk patuh, bukan untuk bersuara. Menjaga perasaan orang lain dianggap lebih penting daripada menjaga perasaan diri sendiri. Mengalah dipandang sebagai kedewasaan. Sementara melawan sering dilabeli sebagai tidak sopan. Ketika masuk ke dunia kerja, pola ini semakin menguat. Struktur organisasi kaku, peluang terbatas. Mengatakan “iya” terasa lebih aman. Mengatakan “tidak” bisa berisiko—pada karier, penghasilan, bahkan relasi kerja. Lama-kelamaan, mengikuti kehendak orang lain menjadi kebiasaan. Namun ini bukan semata-mata soal people pleasing. Ini tentang keterampilan sosial dalam hidup bermasyarakat. Manusia hidup dalam komunitas. Kita saling membutuhkan dan saling bergantung. Banyak Millennials sebenarnya bukan people pleaser, melainkan pandai menjaga hubungan. Ya, terkadang tidak bahagia. Namun dari sanalah banyak dari kami...

Kesimpulan Khutbah Jumat Masjid Babul Raodatuljannah : Menjauhi Sifat Ad-Dayyuts

Khutbah Jumat pekan ini kembali mengingatkan kita, kaum laki-laki, tentang bahaya menjadi ad-dayyuts. Istilah ini mungkin tidak asing, tetapi sudahkah kita benar-benar memahami maknanya? Ad-dayyuts adalah suami atau ayah yang membiarkan kemaksiatan terjadi dalam keluarganya, tanpa upaya untuk memperbaiki atau mencegahnya (Fathul Baari, 10/406). Ia melihat kemungkaran dilakukan anggota keluarga, namun memilih diam dan tidak bertindak. Dalam sebuah hadis marfu’ dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat: Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan ad-dayyuts.” (HR. An-Nasa’i; disahihkan Al-Albani) Ancaman ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut termasuk dosa besar yang dimurkai Allah. Imam Adz-Dzahabi bahkan menempatkan sifat dayyuts sebagai dosa besar ke-34 dalam Al-Kabair. Beliau berkata bahwa jika seseorang mengetahui istrinya ...

Inspiration from Rembayung

Image
Today, I read about Khairul Aming’s journey in opening his first restaurant, Rembayung—a RM4 million investment that began on an empty plot of land, a place many once believed could never become anything meaningful. What inspires me even more is that KA built all of this after spending 10 years navigating the online world. The ups and downs, trials and failures—all of them shaped the courage that eventually led him to step confidently into the offline space. This story reminded me of one important truth: in business, success never happens overnight. It is built slowly, strengthened by experience, patience, and a solid foundation before someone can rise to the next level. As someone still taking small steps in the online business world, KA’s story gives me new motivation. It reminds me of the importance of consistency, discipline, and trusting the process. One day, when my time arrives, I hope to step onto a bigger stage too—just as Rembayung now stands as a symbol of KA’s journey. For ...

GrabBike Partner – Makassar

Image
Alhamdulillah, today I receive a piece of good news that I am truly grateful for. Amid the large number of applicants competing for the same opportunity, I am officially accept as a GrabBike Partner in Makassar and invite to procees with the document verification stage. Becoming part of the Grab family is not an easy path—public interest is extremely high, and the selection quota is very limited. Being choose among so many other candidates is a rare and remarkable privilege for me. I never expect to reach this stage, yet this is the reality I am blessing to experience today. This opportunity is not just about work; it is about trust, responsibility, and the space to grow. I am grateful, and I am ready to move forward with full commitment and professionalism. Every small step matters—and today marks one of those steps.

Desember Tahun 2025

Image
Alhamdulillah, di penghujung tahun 2025 ini saya kembali diberi amanah untuk mempertahankan prestasi sebagai Pemenang Top 50 Misi Hub Jarak Dekat Makassar Periode November–Desember 2025. Bagi saya, pencapaian ini bukan sekadar soal peringkat atau angka. Ia adalah pengingat bahwa ketekunan dalam hal-hal kecil, konsistensi dalam kerja, dan kejujuran dalam usaha selalu menemukan jalannya sendiri menuju hasil yang baik. Di balik setiap pengantaran, ada doa. Di balik setiap kelelahan, ada harapan. Dan di balik setiap tantangan, selalu ada pelajaran. Terima kasih untuk semua pihak yang selalu memberi kepercayaan. Terima kasih untuk setiap pelanggan yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Dan terima kasih untuk diriku sendiri yang terus memilih bertahan, berjuang, dan belajar. Apapun hasilnya ke depan, satu hal yang selalu ingin saya jaga: tetap rendah hati dalam pencapaian, dan tetap kuat dalam ujian. Terima kasih, Shopee. Semoga lelah ini selalu bernilai ibadah.

Learning to Lower Our Lifestyle for a More Peaceful Life

Image
There is nothing shameful about choosing to scale down our lifestyle when the time calls for it. Living more simply is far better than living under the pressure of unnecessary debt. A simpler life brings peace of mind. At first, it may feel uncomfortable—especially if we were once accustomed to comfort. But if we can train our hearts to lower our ego, God willing, we will be able to go through it. We may not become wealthy, but our hearts will always feel content. And that sense of contentment is a sign that our sustenance is blessed. When our sustenance is blessed, all our needs will be sufficiently provided. If in the past we drove luxury cars worth hundreds of millions, today commuting with a modest car such as an Axia, Bezza, or Saga is perfectly fine. Let people say what they want—after all, they are not the ones paying for our fuel every day. On our shoulders rests the responsibility of providing for our family. As heads of households, it is our duty to ensure that our families h...

5 December 2025 — In Memoriam: DSP Bung Mokhtar Radin

Image
5 December 2025 — In Memoriam: DSP Bung Mokhtar Radin My deepest condolences to the family of the late Bung Mokhtar. May his soul be placed among the righteous and the faithful. He was someone whose presence left a lasting impression on me. I always found his unique antics and humor truly memorable. He was one of the individuals whose life journey I observed with genuine interest and respect. Yesterday’s lossed was a quiet remindered that life was, indeed, fragile. It teached us never to postpone happiness, never to delay kindness, and never to take moments for granted. I choose to live in the present—because yesterday is already history, and tomorrow remains unknown. We will truly miss his humor, his spirit, and the simple joy he brought into many moments. May he rest in eternal peace.

Mourning for Sumatra and South Asia

Image
Indonesia is once again in mourning. The massive floods and landslides that have struck Sumatra over the past few days have claimed at least 708 lives, with 504 people still reported missing. These figures continue to rise, indicating that conditions on the ground are far more severe than initially anticipated. Extreme monsoon rainfall combined with the circulation of tropical cyclones across South Asia this week has devastated infrastructure, submerged cities, and claimed more than 1,300 lives across the region, including in Indonesia, Sri Lanka, and Thailand. In Sumatra alone, more than 3.2 million residents have been affected, 2,600 people have been injured, and nearly one million have been forced to evacuate from high-risk areas. Regions such as Central Tapanuli and Agam in Aceh are now cut off due to damaged roads and collapsed bridges. Behind these figures lie millions of stories of loss, trauma, and the struggle for survival. This tragedy is not merely a collection of statistics...

Selamat Jalan, Orang-Orang Baik

Image
Hari ini hati saya terasa berat. Dua kabar duka datang berturut-turut, masing-masing tentang sosok yang meninggalkan jejak kebaikan dalam hidup saya.  Pertama, kabar berpulangnya Dr. Karmila Mokoginta, dosen hebat kami di Sastra Inggris. Beliau wafat di Tanah Suci Mekah saat menjalankan ibadah Umrah. Dedikasinya sebagai pendidik, ketulusan dalam membimbing, dan keteguhannya dalam menebarkan ilmu adalah warisan yang akan selalu kami kenang.  Kabar duka kedua datang dari kepergian Nasir Tompok. Sosok yang sederhana, baik hati, dan turut mewarnai masa kecil kami. Ada bagian dari perjalanan hidup kami yang tak dapat dilepaskan dari kebaikan dan kehadiran beliau.  Sungguh, kami adalah milik Allah dan kepada-Nya pula kami kembali. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.  Hari ini saya kembali diingatkan bahwa hidup ini singkat, dan setiap kebaikan yang kita tinggalkan adalah jejak yang abadi. Semoga kedua almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin. ...

Aceh & Sumatra Floods

Lately we have once again witnessed major floods striking several regions in Indonesia — including in Sumatra and Aceh. Disasters like these should serve as a serious reminder to all of us that nature has actually provided more than enough resources: food, water, shelter, living space. But problems arise when humans no longer take only “what is sufficient.” The issue is not that the earth is lacking, but that humans have begun to give in to greed — taking more than they need, hoarding, exploiting, even dominating without limits. The collective spirit of “enough and simple” is then drowned beneath the ambition of “more, bigger, many, faster.” This is a call to live simply, balanced, and mindfully. If we choose to take only what is sufficient — according to our needs — nature will remain capable of sustaining life. But if we continue to exploit without respect, continually ignoring limits and balance, then environmental destruction, social injustice, and humanitarian crises will become u...