Lelah yang Tak Selalu Terlihat

Ada satu hal yang sering keliru kita pahami tentang lelah dalam bekerja.

Pekerjaan yang menguras tenaga fisik memang melelahkan. Namun, pekerjaan yang menggunakan akal dan pikiran sering kali jauh lebih menguras energi—bahkan membuat seseorang lebih cepat mengalami burn out.

Ambil contoh sederhana. Seorang tukang cuci piring di restoran cukup fokus menyelesaikan tugasnya di tempat kerja. Ketika jam kerja selesai, urusan cuci piring pun ikut selesai. Ia tidak perlu membawa pulang beban pekerjaan ke rumah, apalagi memikirkannya hingga larut malam.

Berbeda dengan mereka yang bekerja dengan otak. Pikiran tidak bisa “ditinggal” di kantor. Masalah pekerjaan sering terbawa pulang, ikut hadir saat makan malam, bahkan menemani hingga sulit tidur. Otak terus bekerja, meski tubuh sedang beristirahat.

Apalagi bagi seorang pemilik usaha. Pikiran hampir tidak pernah benar-benar diam. Selalu ada hal yang dipikirkan: bagaimana bisnis tetap berjalan, bagaimana memastikan karyawan tetap punya pekerjaan, bagaimana gaji bisa dibayarkan tepat waktu, dan bagaimana bertahan di tengah ketidakpastian.

Jujur saja, lelah itu nyata. Bukan hanya fisik, tapi juga emosional dan mental.

Namun di situlah letak harganya. Harga dari pekerjaan yang menuntut tanggung jawab, keputusan, dan keberanian berpikir. Harga dari kerja akal yang tidak selalu terlihat, tapi dampaknya terasa dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, setiap jenis pekerjaan memiliki kelelahan masing-masing. Yang berbeda hanyalah bentuknya—ada yang tampak di tubuh, ada yang tersembunyi di kepala dan hati.

Dan semua lelah itu layak dihargai.

Comments

Popular posts from this blog

The United States and the Late Empire Syndrome: Towards Political Decay?

IS THERE STILL HOPE FOR TUPPERWARE?

The Fate of Gig Workers: Between Flexibility and Uncertainty