FUTUR Credit : Ustaz Ahmad Nasir

Futur adalah keadaan di mana semangat beribadah melemah, ketaatan menurun, dan jiwa menjadi malas mendekat kepada Allah—padahal sebelumnya hati begitu rajin dan kuat dalam ibadah.

Dalam bahasa sederhana:

Dulu hati hangat oleh iman,
kini terasa suam.

Dulu mudah bangun di sepertiga malam,
kini bangun saja terasa berat.

Dulu rindu membuka Al-Qur’an,
kini tak tersentuh berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.

Ini bukan sekadar rasa malas biasa.
Futur adalah penyakit hati—yang perlahan, diam-diam, memadamkan cahaya iman.

Jika dibiarkan, futur akan menjerumuskan seseorang ke dalam kelalaian, membuka pintu dosa, dan menjauhkan diri dari Allah tanpa ia sadari.

Para ulama menyebut futur sebagai melemahnya iman yang sangat berbahaya, terutama bila tidak segera disembuhkan dengan taubat, zikir, dan mujahadah—kesungguhan melawan hawa nafsu.

Futur itu berbahaya jika dibiarkan.

Ia tidak datang seperti badai yang mengagetkan.
Ia datang seperti tikus kecil—menggerogoti iman dari dalam gelap, perlahan, senyap, hingga tanpa sadar hati kita telah berlubang.

Futur tidak berteriak.
Ia berbisik:

“Tenang saja… besok masih bisa taubat.”
“Sedikit saja meninggalkan Al-Qur’an.”
“Nanti saja shalatnya… waktunya masih panjang, kamu capek.”

Dan dalam kelalaian yang terasa lembut, kita mengangguk.
Begitulah setan menang—tanpa perlu berperang.

Futur adalah racun yang menyamar sebagai istirahat.
Ia membuatmu merasa baik-baik saja, padahal sedang tenggelam.
Ia membuatmu merasa “aku masih beriman”, sementara jarakmu dengan Allah sejauh bumi dan langit ketujuh.

Futur bukan sekadar malas.
Ia adalah jenazah iman… yang masih berjalan.

Hari ini engkau menunda shalat di awal waktu.
Besok engkau menunda shalat.
Lusa engkau menunda taubat.
Dan suatu hari nanti—engkau menunda surga.

Namun kematian tidak pernah bisa ditunda.

Futur menampar hati dengan cara paling kejam:
membuatmu merasa nyaman tanpa Allah.

Dan ketahuilah…

Hati yang nyaman tanpa Allah bukanlah hati,
melainkan kubur yang masih berdenyut.

Jika tulisan ini terasa pedas, gelap, dan menampar—
ingatlah, ini baru bayangan.

Yang jauh lebih gelap adalah saat Allah benar-benar menarik hidayah.

Karena ketika hidayah hilang,
engkau tidak akan sadar bahwa engkau telah tersesat.
Engkau hanya terus hidup…
seperti mayat yang masih bergerak.

Bangunlah,
sebelum Allah membiarkanmu tertidur untuk selamanya.

Comments

Popular posts from this blog

The United States and the Late Empire Syndrome: Towards Political Decay?

IS THERE STILL HOPE FOR TUPPERWARE?

The Fate of Gig Workers: Between Flexibility and Uncertainty