Kesimpulan Khutbah Jumat Masjid Babul Raodatuljannah : Menjauhi Sifat Ad-Dayyuts
Khutbah Jumat pekan ini kembali mengingatkan kita, kaum laki-laki, tentang bahaya menjadi ad-dayyuts. Istilah ini mungkin tidak asing, tetapi sudahkah kita benar-benar memahami maknanya?
Ad-dayyuts adalah suami atau ayah yang membiarkan kemaksiatan terjadi dalam keluarganya, tanpa upaya untuk memperbaiki atau mencegahnya (Fathul Baari, 10/406). Ia melihat kemungkaran dilakukan anggota keluarga, namun memilih diam dan tidak bertindak.
Dalam sebuah hadis marfu’ dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat: Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan ad-dayyuts.” (HR. An-Nasa’i; disahihkan Al-Albani)
Ancaman ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut termasuk dosa besar yang dimurkai Allah. Imam Adz-Dzahabi bahkan menempatkan sifat dayyuts sebagai dosa besar ke-34 dalam Al-Kabair.
Beliau berkata bahwa jika seseorang mengetahui istrinya berbuat zina namun membiarkannya, maka Allah telah mengharamkan surga baginya. Di pintu surga tertulis:
“Tidak akan masuk orang yang dayyuts.”
Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan bahwa akar munculnya perilaku ini adalah hilangnya ghirah—rasa cemburu dan marah ketika syariat Allah dilanggar. Beliau menyatakan: “Ad-dayyuts adalah makhluk Allah yang paling buruk dan diharamkan masuk surga. Hilangnya ghirah mematikan hati dan meniadakan kemampuan seseorang menolak keburukan.”
Ghirah diibaratkan sebagai antibodi bagi tubuh. Ketika ia hilang, maka hati menjadi sakit, dan seluruh anggota tubuh kehilangan kekuatan untuk menolak kerusakan.
Jangan Salah Menafsirkan Cinta
Wahai kaum muslimin, jangan sampai kita tergolong ad-dayyuts—membiarkan istri dan anak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariat atas nama cinta, toleransi, atau takut melukai perasaan mereka.
Kasih sayang bukan berarti menuruti semua keinginan, terlebih jika bertentangan dengan perintah Allah. Suami yang takut menegur, takut mengarahkan, atau “takut istri”, pada akhirnya justru membiarkan keluarganya dekat dengan bahaya.
Perilaku seperti:
membiarkan pergaulan bebas,
membiarkan anak pulang larut malam,
membiarkan istri keluar tanpa menutup aurat,
membiarkan kemaksiatan dalam rumah,
adalah bentuk nyata dari sifat dayyuts.
Padahal Allah telah berfirman: “Ar-rijaalu qawwaamuuna ‘alan-nisaa’…” “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan.” (QS. An-Nisa: 34)
Kepemimpinan ini bukan untuk menindas, tetapi untuk membimbing, menjaga, dan menuntun menuju keselamatan dunia–akhirat.
Amanah Kepemimpinan Keluarga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.”
(Muttafaq ‘alaih)
Seorang istri, meski memiliki banyak kebaikan, tetaplah manusia yang membutuhkan bimbingan. Rasulullah menjelaskan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, sehingga membutuhkan pengarahan penuh kasih, hikmah, dan kesabaran.
Karena itu, seorang suami tidak boleh lalai menasihati, mengingatkan, atau memperbaiki kesalahan keluarganya.
Allah kembali memperingatkan dalam QS. At-Tahrim ayat 6: “Wahai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
Inilah amanah yang harus dipegang setiap suami, setiap ayah.
Wahai para suami, para ayah—engkaulah penjaga keluarga. Jangan sampai kita menjadi ad-dayyuts yang membiarkan keluarganya terseret pada hal-hal yang merusak iman dan akhlak.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang memiliki ghirah, pemimpin yang bertanggung jawab, dan penjaga bagi keluarga kita dari jalan menuju murka-Nya.
Comments
Post a Comment